Inovasi Sekolah Berasrama
Senin, 23/06/2008
http://www.republika.co.id. Senin, 16 Juni 2008 16:03:00
Saat ini, sekolah berasrama (boarding school) telah menjadi salah satu pilihan sistem pendidikan anak. Bahkan, semakin banyak saja sekolah yang menerapkan sistem pendidikan berasrama. Tidak hanya untuk satu jenjang pendidikan tertentu, tapi seluruh jenjang pendidikan yang ada. Dari tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.
Melalui sistem ini, pendidikan disajikan secara menyeluruh, selama 24 jam. Tidak secara terpisah seperti pada pendidikan reguler. Jika pendidikan reguler hanya fokus kepada pendidikan akademis saja, maka pendidikan di sekolah boarding memuat pendidikan di semua aspek. Mulai dari akademik, agama, keterampilan, hingga pembinaan karakter.
''Dengan boarding school, semua pembelajaran dilakukan secara terintegrasi. Pendidikan berjalan selama 24 jam dan tidak hanya dilakukan di kelas. Namun juga melalui kegiatan keseharian yang dijalani siswa,'' ujar Executive Director Al Kausar Boarding School Douglas Habib Prabawono.
Melalui sistem ini, tambah Douglas, pelajaran akan hidup dan membentuk siswa menjadi mandiri. Karena semua kegiatan dilakukan sendiri dan berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan. Tidak hanya itu, sistem asrama membuat ruang gerak siswa menjadi terbatas. Yaitu hanya di lingkungan sekolah saja. Pendidikan pun lebih terarah dan terkontrol. Dengan begitu, dapat mengurangi pengaruh buruk yang mungkin ditimbulkan lingkungan di luar sekolah.
Salah satu contohnya adalah pendidikan yang berjalan di Al Kausar. Dengan mengusung pendidikan berasrama, setidaknya ada tiga dimensi yang ingin diraih Al Kausar. Yang pertama adalah dimensi Islam. Yaitu pembentukan akhlak, pikiran, perilaku, dan kehidupan sehari-hari berdasarkan nilai-nilai Islam.
Dimensi ini tidak hanya diajarkan di kelas saja. Namun juga melalui kegiatan yang dilakukan di luar kelas. Douglas mencontohkan, setiap siswa harus melakukan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid sekolah. Dengan begitu, akan muncul sikap disiplin untuk menjalankan ajaran Islam ataupun hal-hal lain.
Dimensi kedua adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk dimensi ini, memang difokuskan kepada pembelajaran di kelas. Namun tetap, elemen pendukungnya merupakan nilai-nilai yang tidak hanya diajarkan di kelas. Tapi juga di luar kelas. Sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan optimal.
Untuk pendidikan akademis, Al Kausar menerapkan sistem yang berbeda dengan sekolah lainnya. Yaitu menggunakan sistem moving class (kelas bergerak). Dalam sistem ini, setiap mata pelajaran memiliki ruang kelas tersendiri. Jadi, jika di sistem reguler guru yang datang ke kelas. Maka dengan sistem ini siswa yang akan datang ke guru (kelas).
Suasana kelas pun disesuaikan dengan satu mata pelajaran tertentu. Lengkap dengan perlengkapan dan alat peraga yang berkaitan dan dibutuhkan dalam satu mata pelajaran. Dengan sistem ini, jelas Douglas, siswa dapat lebih cepat beradaptasi dengan mata pelajaran yang diberikan.
Dimensi ketiga adalah dimensi kemandirian dan keterampilan. Ini diberikan melalui berbagai macam kegiatan ekstrakulikuler. Ada dua ekstrakulikuler yang wajib diikuti siswa. Yaitu bela diri dan renang. Selebihnya, siswa bebas memilih kegiatan yang sesuai dengan minatnya. ''Kegiatan ekstrakulikuler juga terintegrasi dengan mata pelajaran, olah raga misalnya. Siswa bebas memilih olah raga yang diinginkan melalui kegiatan ekstrakulikuler. Nilainya pun diambil dari kegiatan ini,'' kata Douglas.
Meskipun begitu, sistem ini memiliki beberapa kelemahan. Antara lain, menyebabkan kurangnya kemampuan sosialisasi siswa. Khususnya dengan masyarakat luas. Hal ini karena sifat kehidupan di asrama yang homogen. Untuk mengatasi hal itu, Al Kausar mengadakan program homestay untuk setiap siswanya. Setiap siswa diharuskan untuk tinggal di rumah masyarakat sekitar sekolah selama beberapa hari dalam satu tahun.
Boarding Intermoda
Kelemahan ini yang coba diatasi International Islamic Boarding School (IIBS) dengan membuat sistem Boarding Intermoda. Executive Director IIBS Drs Sutrisno Muslimin, Msi mengatakan, sistem ini sedikit berbeda dengan sekolah asrama pada umumnya. Jika sekolah asrama biasanya berada di satu tempat yang menyediakan semua fasilitas. Sedangkan sistem Boarding Intermoda menggunakan tempat yang berbeda.
Sutrisno mencontohkan, untuk tempat tinggal ia menggunakan apartemen. Untuk ruang kelas ia menggunakan gedung perkantoran. Sedangkan untuk fasilitas olah raga ia menggunakan fasilitas olah raga yang ada di daerah sekitar. ''Dengan sistem ini, pendidikan dilakukan secara lebih dinamis. Sehingga dapat mengurangi kejenuhan yang umumnya muncul di sekolah berasrama,'' kata Sutrisno.
Ia menambahkan, dengan sistem ini semua kegiatan berjalan dengan optimal. Karena fasilitas yang digunakan memang ditujukan sesuai dengan peruntukannya. Seperti apartemen yang memang ditujukan untuk tempat tinggal dengan segala fasilitasnya. Atau gedung perkantoran yang digunakan sebagai kelas, sehingga ketika siswa belajar tidak akan diganggu dengan kegiatan-kegiatan lain. Atau juga pemanfaatan sarana olah raga setempat yang kerap kali idle.
''Coba bayangkan jika saya harus membuat sarana olah raga sendiri. Dengan keterbatasan tempat dan dana yang mungkin muncul, bisa-bisa fasilitasnya tidak memiliki standar yang seharusnya. Tapi berbeda jika kita memanfaatkan sarana yang sudah ada. Selain kita mendapatkan sarana dengan standar yang baik juga dapat memberikan kontribusi kepada daerah,'' kata Sutrisno.
Meskipun terlihat lebih longgar, tapi Sutrisno menjamin bahwa pengawasan tetap berjalan layaknya sistem boarding biasa. Hal ini karena adanya mursyid/mursyidah yang menjadi penanggung jawab siswa. Satu orang mursyid/mursyidah bertanggung jawab terhadap satu kelompok yang terdiri dari delapan siswa. Tidak jarang juga diadakan pendidikan di luar kelas.
Meskipun begitu, baik Douglas maupun Sutrisno tetap menghimbau agar orang tua memberikan dukungan dan motivasi kepada anaknya. Karena, justru kedua hal ini menjadi hal yang sangat penting bagi siswa untuk berkembang. ''Bukan berarti memasukan anaknya ke sekolah asrama lalu orang tua tidak berperan dalam perkembangan dan pendidikan anak. Justru sebaliknya,'' tegas mereka.
