Aktif di organisasi kemahasiswaan melicinkan jalan bagi Ahmad Sururi Aziz untuk menunjukkan kemampuannya sebagai pendidik. Saat masih tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Geografi Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta - sekarang Universitas Negeri Jakarta - dia sudah berdiri di depan kelas, mengajari sesama mahasiswa.
Semasa mahasiswa, dia memang termasuk salah seorang aktivis kampus. Selain menjadi pengurus Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), dia pun sempat mengetuai Ikatan Mahasiswa Geografi Indonesia. Aktivitas ini memberinya kesempatan berkenalan dengan banyak mahasiswa, tak hanya di kampus tempatnya kuliah tapi juga dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Meski resminya memegang kartu mahasiswa IKIP Jakarta, tapi tidak jarang Sururi berada di ruang kuliah perguruan tinggi lain, mengikuti perkuliahan geografi. Itu dapat ia lakukan, selain karena berteman dengan banyak mahasiswa yang tengah mengikuti perkuliahan itu, juga karena pengajar di perguruan tinggi itu sudah dikenalnya. ''Saya biasa ikut kuliah di UGM (Universitas Gajahmada),'' tutur lelaki kelahiran Tegal, 10 April 1969 ini.
Pertemanan itu, diakuinya, kerap membukakan peluang-peluang baru baginya. Dari teman-temannya dia memperoleh banyak dukungan untuk melangkah maju. Tapi Sururi sadar, dukungan dan kepercayaan yang diperolehnya tidak bisa disia-siakan.
Kepercayaan itu ditebus dengan kesungguhan. Wujud kesungguhan ia ditunjukkan dengan memberi perhatian penuh pada tugas yang diberikan kepadanya. Sururi mengaku tidak pernah setengah hati dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pendidik. Prinsip yang dianutnya tegas. Dia bilang, ''Harus total kalau masuk suatu pekerjaan.''
Totalitas diri itu memang dibuktikannya. Seperti jamaknya guru di Jakarta, dia pun pernah merasakan bagaimana harus membagi waktu karena mengajar di dua sekolah. Tapi mengajar di dua sekolah yang berlokasi di tempat berbeda tidak membuatnya senantiasa lalai menjalankan amanah. Saat itu, ia mengajar di SMP/SMU Permata Bunda dan SMP/SMU Diakonia.
Sikap totalitas itu membuatnya ia bisa bertahan hingga delapan tahun mengajar di kedua sekolah tersebut. ''Saya mengajar dari tahun 1990 hingga 1998,'' kata Sururi. Saat mulai mengajar di Permata Bunda, dia masih tercatat mahasiswa tahun kedua di IKIP Jakarta.
Kedua sekolah ini terpaksa ia tinggalkan karena merasa perlu berkonsentrasi penuh di SLTP/SMU Internat Al Kausar, Sukabumi, Jawa Barat. Dia mulai mengajar di sekolah berasrama itu pada 1997, tiga tahun setelah ayah seorang anak ini merampungkan pendidikannya di perguruan tinggi.
Di sekolah Internat Al Kausar inilah dia menemukan model pembelajaran integratif yang menggabungkan beberapa materi pelajaran. Dalam model ini, siswa diajak turun ke lapangan sekaligus mempelajari sejumlah mata pelajaran dalam waktu bersamaan.
Pelajaran geografi sebagai basic, terintegrasi dengan pelajaran lain seperti sosiologi, geologi, kimia, ekonomi, bahasa Inggris, atau bahasa Indonesia. ''Saya dilhami oleh kondisi geografi. Saya ingin mengoptimalkan alam,'' ujarnya.
Sejak tiga tahun lalu model pembelajaran ini sudah diterapkan di SLTP/SMU Al Kausar. Dua tahun terakhir model pembelajaran ini diikutkan dalam lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran tingkat nasional. Tahun lalu, 2001, model ini menempati peringkat keenam tingkat nasional lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).
Tahun ini model yang sama diikutkan dalam ajang serupa yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tentu saja setelah dilakukan penyempurnaan dan pengembangan. Kali ini, peringkatnya meningkat. Sururi berujar, ''Model pembelajaran integratif ini dinyatakan sebagai juara kedua.''
Menamatkan pendidikannya di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di kota kelahirannya, Tegal, Sururi menempuh Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Brebes. Tamat dari situ, dia melanjutkan di IKIP Jakarta pada 1989. Dari sinilah dia mulai berkiprah dalam dunia pendidikan.
Sekitar 12 tahun melakoni profesi sebagai pendidik, dia merasakan ada kenikmatan yang diperoleh dalam mengajarkan anak didik. Itu, katanya, karena yang dihadapi mahluk hidup, sehingga bisa diajak berkomunikasi. ''Di sinilah nikmatnya mengajar,'' katanya. ''Yang dihadapi bukan benda mati.'' Kenikmatan itu pulalah yang mendorongnya untuk berkreasi, menciptakan model-model pembelajaran baru untuk memudahkan anak didik. n bur